Oleh Moh Hanif Lutfi | Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang. Penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kemenag RI. Redaktur Pelaksana Buletin MAGESTY IAIN Walisongo Semarang.
Hudan Dardiri | Anggota Com
Oleh Wildani Hefni | Pengelola Rumah Baca PesMa Darun Najah IAIN Walisongo Semarang.
Oleh Teuku Saifullah, pelajar Aceh penerima biasiswa PBSB Kementrian Agama, mahasiswa Kosentrasi Ilmu Falak IAIN Walisongo Semarang. Oleh Alkaf Muchtar Ali Piyeung | Mahasiswa Pascasarjana Studi Politik dan Pemerintahan Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Jogjakarta dan Pegiat di Kelompok Studi Darussalam.
RESEARCH | SURVEY | QUARTERLY REPORT
(25 laporan Penelitian Komplit)
COMING SOON....
FIKIH “OLAH”Istilah ini pertama dipopulerkan oleh seorang peserta dalam sebuah diskusi informal di Fakultas Syariah berkaitan dengan banyaknya prilaku yang pada prinsipnya tidak berdasarkan kepada prinsip, norma atau nilai-nilai yang berdasar pada ketetapan/ketentuan hukum. Namun aplikasi, penerapan fikih “olah” ini telah menjadi sebuah tradisi. Biasanya adalah kondisi dharurah atau untuk “kemashlahatan” yang dijadikan sebagai “ilat” atau dasar untuk menerapkan fikih “olah” ... Selengkapnya... Tuesday, 6 December 2011 | Hits: 153 |
Pemberitaan media massa tentang keberadaan komunitas punk, respon pemerintah dan kaum ulama serta tindakan penertiban yang dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap remaja-remaja punkers di Aceh, telah mengundana aksi solidaritas anak-anak punk lainnya di Indonesia, seperti dalam bentuk demonstrasi di Jakarta. Publikasi media yang cukup intens terhadap masalah punk di Aceh ini juga telah menyedot perhatian banyak pihak hingga menjadi isu nasional, bahkan internasional. Banyak yang curious dan mengkaitkannya dalam konteks penerapan syariat Islam, ada juga yang melihatnya dari perspektif HAM, hingga sikap pro-kontra pun bermunculan di tengah-tengah masyarakat.
Jika dilihat ihwal keberadaannya, tampaknya keberadaan komunitas punk iini relatif baru di Aceh. Saya sendiri tidak tahu kapan persisnya. Ada yang menyebutkan tahun 90-an sebagai awal kemunculan mereka di daerah ini. Belakangan perkembangan komunitas anak-anak punk ini dan problematika yang kemudian timbul terkait dengan keberadaan mereka pun ikut menyeret rasa ingin tahu kita, apa dan bagaimana sebenarnya komunitas punk ini?
Aceh selalu jadi perhatian. Begitulah anggapan beberapa pihak menanggapi penanganan anak-anak punk oleh pemerintah daerah. Padahal, penertiban anak punk sudah sering dilaksanakan di daerah lain, tapi tidak terlalu heboh. Giliran Aceh langsug memicu kontroversi. Bagi yang pro, pasti menyambut baik langkah pemerintah daerah khususnya Banda Aceh membina anak punk. Sebaliknya, yang kontra bersuara lebih keras dengan mengklaim terjadi pelanggaran hak anak dalam kasus ini.
Kota Banda Aceh yang mendeklasikan diri sebagai Bandar Wisata Islami tentu ada alasan menindak anak-anak punk. Apalagi ibukota Provinsi Aceh menjadi ikon Aceh secara keseluruhan. Wajar, jika orang luar atau siapa pun yang melihat Aceh pasti bercermin pada kondisi Kota Banda Aceh. Demikian juga dengan pembinaan anak-anak punk yang dilakukan bersama Kepolisian Daerah (Polda) Aceh. Konon pula, langkah Pemda mendapat dukungan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh (Serambi/17/12).
Dalam jagat sepak bola saat ini FC Barcelona adalah sebuah fenomena. Setiap kali mereka tampil di lapangan, maka akan menjadi momentum yang paling ditunggu-tunggu oleh jutaan penggila bola di seluruh dunia. Siaran live oleh berbagai media televisi di berbagai negara menjadi sajian istimewa yang memuaskan dahaga pencinta sepak bola dunia akan atraksi sepak bola berkualitas tinggi dan indah ala tim Catalan-Spanyol ini.
Atraksi sepak-bola Barcelona memang dahsyat. Dan menjadi istimewa bukan hanya karena mampu menyihir jutaan penonton yang menyaksikan pertandingan mereka, tapi bahkan seringkali juga menghipnotis lawan-lawan mereka. Kombinasi teknik, skill individu, visi dan strategi permainan mereka yang brilian, dengan gaya tiki-taka yang cepat dengan satu-dua sentuhan, plus dribling dan penetrasi maut dengan skill tinggi dari bintang-bintangnya seperti Messi, Iniesta, dan Xavi, membuat pesona sepakbola Barcelona bagaikan magnet yang menyedot habis kekaguman publik sepak bola dunia. Jutaan pencinta sepakbola dunia dibuat demam dengan sepak bola indah dan menyerang yang mereka peragakan.
Judul : Seumike, Jurnal Kajian Aceh (Rekonsiliasi Pasca Konflik) | Editor : Fajran Zain, Saifu Mahdi | Penerbit | Aceh Institute Press | Tebal Halaman : iii+95 | Harga : Rp. 25.000 | Tahun Terbit :Februari, 2009 | Volume :4 No. :1 | ISSN :1907-9877 | Sinopsis: Penguatan proses reintegrasi damai di Aceh dapat dilakukan secara structural maupun kultural. Pendekatan struktural dapat dilakukan misalnya, dengan komunikasi dan koordinasi yang lebih baik di antara pemangku kepentingan di Aceh yang telah bersetuju untuk berdamai dan menjaga perdamaian. Pendekatan kultural dapat dilakukan di antaranya lewat peningkatan peran ulama yang pro-aktif dan independen.
Laporan Penelitian : Barometer Korupsi di Aceh | Tim Peneliti : Tim Peneliti Aceh Institute | Penerbit :Aceh Institute Press | Tebal Halaman :iv+33 | Harga :Rp. 25.000 | Tahun Terbit Mei 2010 | Sinopsis : Merujuk pada tampilan jawaban seluruh responden, maka terlihat bahwa mayoritas responden menilai performa pemerintahan eksekutif pada level propinsi bisa disimpulkan sangat buruk. 75 % responden dari total 2.140 responden menilai kinerja mereka Tidak Efektif, bahkan 19% dari total 75 % itu menilai secara lebih ekstrim lagi yaitu Sangat Tidak Efektif.
Judul Buku : Riyeuk : Aceh, Pluralisme dan Inisiatif | Editor : Fajran Zain dan Muhammad Alkaf | Penerbit : Aceh Institute Press | Tebal Halaman : xviii+116 | Harga : Rp.35.000 | Tahun Terbit :Desember 2008 | ISBN : 978-979-17858-2-2 | Sinopsis : Studi tentang pluralisme di Indonesia sudah mulai menjadi mainstream. Namun di Aceh studi ini baru diintrodusir oleh satu-satu akademisi, tetapi secara massive dan mainstream, ide ini belum menjadi focal issue. Kehadiran Aceh Institute (AI) bekerjasama Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Indonesia dalam konteks ini, disamping untuk menginisiasi diskursus ini-yang memang menjadi realitas niscaya-juga ingin menjadikan fakta keberagaman sebagai fakta nikmatnya kopi solonk, diakui dan diterima, walau tidak semua sudah dan harus menikmatinya.
Judul Buku :Geunap Aceh: Perdamaian Bukan Tanda Tangan | Editor : Fajran Zain | Penerbit : Aceh Institute Press | Tebal Halaman : 1vii+240 | Harga :Rp. 35.000 | Tahun Terbit : April 2010 | ISBN : 978-979-17858-4-6 | Sinopsis : Proses perundingan untuk menyelesaikan konflik Aceh yang hampir dua tahun tertutup, kembali dibuka setelah wilayah itu dilanda Tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 lalu. Harapan damai yang hampir hilang sesaat setelah pemerintah Indonesia menetapkan Aceh sebagai wilayah darurat militer kembali muncul seiring dengan mengalirnya perhatian publik ke wilayah ini. Namun apakah proses damai kali ini akan berhasil mengakhiri konflik yang berakar (protracted conflict) yang sudah berlangsung selama beberapa dekade? Bagaimana anatomi konflik Aceh saat ini, dan elemen apa dari konflik itu yang sudah berubah akibat bencana yang merenggut lebih dari 120,000 jiwa itu? Serta apa pengaruhnya perubahan itu terhadap usaha mencapai perdamaian yang sustainable untuk menggantikan siklus kekerasan yang seakan sudah melekat dengan wilayah bernama Aceh itu?
Judul Buku :Seumike, Jurnal Kajian Aceh (Aceh Paska UU-PA) | Editor : Saiful Mahdi, Fajran Zain dan Evi Ramadhani | Penerbit :Aceh Institute Press | Tebal Halaman : 139 | Harga :Rp. 25.000 | Tahun Terbit : 1 November 2007 | Volume :3 No. :1 | ISSN : 1907-9877 | Sinopsis : AMM memainkan peran yang sangat penting bagi proses implementasi damai di Aceh. Keberhasilan AMM ditunjang oleh kuatnya back up negara dan organisasi regional, Ini berbeda dengan apa yang telah dilakukan oleh HDC yang hanya melibatkan pihak-pihak yang berkonflik sebagai lembaga monitoring dalam joint Security Committee (JSC). Faktor ASEAN dan EROPA merupakan kunci utama di balik keberhasilan peran AMM. Karena dari negara-negara Eropa-lah (baik secara individu maupun melalui organisasi) dana untuk rehabilitasi dan rekonstruksi akibat bencana gempa bumi, tsunami dan konflik mengalir. Pengabaian terhadapnya akan berpengaruh pada kelancaran aliran dana tersebut.
Judul Buku : Rangkeum 2009 (Olah-pikir Aceh Institute di Media) | Editor : Fajran Zain | Penerbit : Aceh Institute Press | Tebal Halaman : v+208 | Harga : Rp. 35.000 | Tahun Terbit : Februari 2010 | ISBN : 978-979-17858-3-9 |
Sinopsis :
Distribusi Kemiskinan (Saiful Mahdi): Dari segi distribusi kemiskinan antar wilayah, Aceh adalah contoh kebijakan pembangunan nasional yang gagal. Hanya karena Jakarta perlu devisa dari minyak dan gas Aceh, struktur ekonomi Aceh yang semula berbasis pertanian berubah sejak gas Arun mulai berproduksi pada tahun 1978.
PA Meunang: What’s next?( Fajran Zain): Bagi Jakarta kemenangan ini memberi sinyal khusus, setelah pada pilkada 2006 lalu PA berhasil menguasai eksekutif hari ini (2009) PA berhasil menguasai legislative. Sungguh sebuah ancaman terhadap kedaulatan Indonesia. Maka tantangan PA adalah meyakinkan Jakarta, bahwa paranoia politik itu tidak beralasan. Jakarta tidak perlu khawatir akan komitmen dan sikap kebangsaan orang Aceh.
Definisi Aceh (Muhammad Alkaf): Definisi Aceh kini menjadi sangat lokalistik dan etnosentrisme. Secara serempak, etnisitas yang bersifat lebih kecil, berupaya mendefenisikan identitasnya. Rupanya identitas lama; Aceh, yang telah dikonstruksikan pada masa awal, tidak lagi bisa menjadi definisi yang bisa diterima oleh seluruh individu yang tinggal di Aceh.
Pembisik-Pembisik Aceh: Fajran Zain: Semua orang Aceh di manapun harus mampu menjadi pembisik-pembisik yang handal. Kita butuh pembisik di lingkaran Cikeas dan di provinsi manapun di nusantara. Bahkan lebih jauh lagi kita harus memiliki pembisik di lingkungan internasional. Targetnya adalah memberitakan dan memastikan bahwa pembangunan Aceh paska konflik masih membutuhkan banyak perhatian.
Laporan Penelitian : Investasi Pendidikan dan Kaitannya dengan Pertumbuhan Ekonomi Propinsi NAD | Tim Peneliti : Dr. Nazamuddin Basyah Said, MA, Riswandi, SE, .Ec, Fitrah Afandi, SE | Penerbit :Aceh Institute Press | Tebal Halaman : iv+33 | Harga : Rp. 25.000 | Tahun Terbit : April 2009 | Sinopsis : Investasi di sektor pendidikan, baik di Indonesia pada umumnya dan Aceh pada khususnya, terkait erat dengan pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja. Mutu tenaga kerja yang rendah berdampak langsung pada kenaikan produktivitas dan karenanya pertumbuhan ekonomi. Tenaga kerja terdidik juga menjadi tuntutan yang tak dapat dielakkan untuk mendukung pergeseran struktur ekonomi dari sektor primer tradisional ke sektor manufaktur dan jasa modern.
PESAN BUKU HUB: MARLINA > lina_zse@yahoo.com