Back to Home | OPINI LAINYA

»

Prospek Lagu Aceh di Blantika Musik Internasional

Oleh: M. Shabri Abd. Majid | Peminat lagu-lagu dan kesenian Aceh

Kenapa musisi dan produser lagu Aceh sangat suka meniru lagu India dan lagu-lagu asing lainnya dan tidak mau berkreasi sendiri? Apakah memang produser dan musisi lagu Aceh dilahirkan dan ditakdirkan sebagai tukang ciplak (plagiator)? Atau karena musisi dan produser lagu Aceh telah kering dan kehabisan ide serta tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan lagu dan musik khas tersendiri? Rasanya, mustahil! Karena lagu “nyawoeng”, “Hasan-Husein”, dan beberapa lagu buah karya Rafli telah menjadi bukti kemampuan musisi dan produser lagu Aceh untuk berkreasi. Siapa saja yang pernah mendengar lagu buah karya Rafli pasti akan mengaguminya."

 
 

 

Dampak krisis politik dan ekonomi tidak selamanya negatif. Atau dengan kata lain, setiap musibah pasti ada hikmahnya. Krisis politik dan ekonomi yang belum sepenuhnya tuntas menerpa Aceh, setidaknya, telah memberi dua imbas positif bagi Aceh. Selain semakin ramainya orang Aceh yang menuntut ilmu ke luar daerah dan negeri, lagu-lagu Aceh pun telah muncul dengan pesatnya dalam satu dekade belakangan ini. Membludaknya lagu-lagu Aceh bak “jamur di musim hujan” semakin memperkaya khazanah musik dan kesenian Aceh. Namun, sayang seribu sayang, hampir semua lagu-lagu Aceh gagal memartabatkan dan mengembalikan marwah kesenian Aceh yang sarat dengan nilai-nilai keislaman. Nilai jual lagu terletak pada para musisi dan produser lagu Aceh ketimbang pesan yang disampaikan lewat syair-syair lagu. Bahkan, penampilan penyanyi Aceh di VCD (Video Compact Disk) lagu Aceh, sungguh menyesakkan dada. Dengan pakaian super ketat dan terbuka aurat, penyanyi dara Aceh melenggak-lenggok aduhai. Sungguh aneh bin ajaib, padahal kebanyakan lagu Aceh yang dilantunkan adalah lagu-lagu nasihat agamis. Apakah musisi dan produser lagu Aceh telah lupa bahwa di Aceh sekarang sedang gencar-gencarnya kampanye pelaksanaan syari’at Islam yang di tabuh hampir dipelosok Bumi Iskandar Muda? Apakah para musisi dan produser lagu Aceh lupa bahwa tanggung jawab untuk mengimplimentasikan syaria’at Islam di Aceh hanya monopoli Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) lantas mereka boleh berpangku tangan? Apakah para musisi dan produser lagu Aceh khususnya dan rakyat Aceh pada umumnya sama sekali tidak bertanggung jawab untuk memartabatkan syari’at Islam dilaksanakan secara kaffah di bumi Iskandar Muda? Artikel ini tidak dituliskan untuk menjawab semua persoalan di atas. Namun, peluang lagu-lagu Aceh untuk “go public” merambah blantika musik internasional akan dipaparkan.

Feedback yang bervariasi

Suatu ketika, di tengah kesuntukan penulis belajar di Negeri Seberang (Malaysia), penulis mengambil sebuah tape recorder yang sudah usang dan memutar satu kaset lagu dangdut Aceh. Kebetulan kaset lagu Aceh itu baru saja penulis bawa dari kampung halaman tercinta melalui teman yang mudik liburan kuliah. Ketika menikmati lagu Aceh itu, tiba-tiba seorang “classmate” (rekan sekelas) penulis asal Ghana, Ahmadu Rufai, 28 tahun datang memasuki bilik asrama dimana penulis tinggal. Lantas, dia pun berkata: “Hi....you can understand Hindi, can’t you”? (Hai...kamu mengerti bahasa India, bukan’?). “No, I don’t” (Tidak, saya tidak tahu), jawab penulis ringkas. Rupa-rupanya, Rufai berpikir bahwa lagu yang sedang penulis putarkan itu adalah lagu India. Sebab selain musiknya sama persis musik India, syair-syairnya juga menyerupai bahasa India yang sangat kentara dengan huruf “R”. Ketika penulis tanyakan pada Rufai: Do you like it? (apakah kamu menyukainya?), Rufai hanya menjawab, “It is Ok” (itu oke). Kejadian ini berlaku di akhir tahun 1998. “Feedback” (umpan balik) dari percakapan di atas menunjukkan bahwa lagu Aceh masih sangat  kental menciplak lagu dan musik India. Kenapa musisi dan produser lagu Aceh sangat suka meniru lagu India dan lagu-lagu asing lainnya dan tidak mau berkreasi sendiri? Apakah memang produser dan musisi lagu Aceh dilahirkan dan ditakdirkan sebagai tukang ciplak (plagiator)? Atau karena musisi dan produser lagu Aceh telah kering dan kehabisan ide serta tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan lagu dan musik khas tersendiri? Rasanya, mustahil! Karena lagu “nyawoeng”, “Hasan-Husein”, dan beberapa lagu buah karya Rafli telah menjadi bukti kemampuan musisi dan produser lagu Aceh untuk berkreasi. Siapa saja yang pernah mendengar lagu buah karya Rafli pasti akan mengaguminya.


Selang seminggu kemudian, datang pula kawan Rufai, Muhammadu Idrissu Tanko juga asal Ghana (28 tahun, mahasiswa master pendidikan) ke kamar penulis. Tanko berkata: “I heard from Rufai you have a nice song from your hometown, let’s me see” (Saya dengar dari Rufai kamu memiliki lagu menarik asal kampung kamu, coba saya lihat). Ternyata, Tanko mendapat informasi dari Rufai tentang lagu Aceh. Lantas segera saya on-kan tape-recorder tua tadi. Maka, terdengarlah lagu dangdut Aceh sampai kesemua rungan. Setelah puas mendengar, Tanko bertanya, “is it the song really Acehnese song”? (apakah lagu itu betul-betul lagu Aceh? “Is there something wrong with the songs”? (apakah ada sesuatu yang mengena dengan lagu itu?), tanya penulis? Tidak, jawab Tanko. Cuma, katanya, “lagu Aceh itu kok persis seperti lagu India”. Walaupun Tanko mengklaim bahwa lagu Aceh itu persis seperti lagu India, namun dia berkata: “I would like to take this casset to my country when I’ll be going back, if you permit me to do so” (saya ingin membawa kaset ini bersama saya ketika saya pulang ke negara saya nanti, jika kamu mengizinkan). Rupanya, Tanko sangat menikmati dendangan lagu Aceh, walaupun dia sama sekali tidak memahami apa makna syair-syair yang dikandungi lagu itu. Maka ketika dia mau pulang kampung, penulis pun memenuhi janjinya untuk memberikan kaset Aceh itu kepada Tanko. Sebab penulis berpikir, kalau tidak sekarang, kapan lagi mempromosikan lagu Aceh hingga ke Benua Afrika. Namun, penulis sempat menjelaskan apa isi dan “message” (pesan-pesan) dari lagu Aceh itu kepadanya dengan alasan: “ at least, when people ask you what does song talk about, then you will be able to give explaination on it” (sekurang-kurangnya, ketika ada orang yang menanyakan kamu tentang apa lagu itu, maka kamu akan dapat menjelaskannya). Tidak hanya Tanko, Muhammad al-Khadaf, 29 tahun kawan penulis asal Filipina yang sedang mengambil program Doktor di bidang Ilmu Politik juga sangat meminati lagu Aceh. Namun, di antara lagu-lagu Aceh yang penulis miliki, lagu “nyawoeng” yang menjadi idolanya.

 

Ketika kawan penulis asal Aceh menginstal lagu “nyawoeng” yang telah dikonversikan dari kaset ke dalam bentuk MP3 di komputer penulis, hampir saban hari penulis menyempatkan diri untuk menikmatinya. Ternyata, Ibrahim Abdullayev, mahasiswa Doktor di bidang Teknologi Informasi asal Daghestan (salah satu negara bekas Uni Soviet) yang tinggal berdampingan dengan kamar penulis, begitu menyukainya. Sejak saat itu, hampir saban hari, lagu “nyawoeng” mengudara membelah kesunyian di biliknya. Dia pun sempat saya tanyakan, kenapa dia begitu meminati lagu itu? Dia bilang, karena lagu “nyawoeng” itu sangat mirip dengan lagu-lagu yang menjadi idolanya yang beredar di negara dia. Baik dari segi syair maupun musik, kedua-duanya sangat menggugah jiwa dan  menyentuh hati. Pokoknya, begitu padan antara lagu dan irama, tambahnya.

Di Malaysia, sesiapa saja yang ingin membeli kaset dan VCD lagu Aceh dengan mudah dapat membelinya. Di kawasan Chow Kit, pusat kota Kuala Lumpur lagu Aceh tidak saja dijual oleh pedagang-pedagang asal Aceh, tapi juga dijual oleh pedagang Malaysia keturunan Cina. Bahkan yang luar biasanya, dua buah lagu Aceh karya Rafli telah di VCD-kan dalam satu VCD dengan lagu-lagu terkenal Yusuf Islam (warga Inggeris) dan penyanyi asal Malaysia dan Singapura. Sungguh luar biasa potensi lagu Aceh di blantika musik internasional.

Dari semua komentar positif yang diberikan teman penulis yang berasal dari berbagai negara terhadap lagu Aceh, maka dapat dikatakan bahwa lagu Aceh sangat berpeluang untuk merambah blantika musik internasional. Namun, dalam memanfaatkan peluang ini, para musisi dan produser lagu Aceh tidak boleh menjual maruah Aceh dengan lebih dominan mempertontonkan tubuh seksi dan aurat yang jauh dari nilai-nilai keislaman. Lagu-lagu Aceh itu hendaklah tetap memiliki ciri khas ke-Aceh-an dengan muatan minimum pengadopsian irama dan syair lagu India dan asing. Lagu Aceh hendaklah mampu mengantarkan messages Islam. Penampilan penyanyi Aceh haruslah mencerminkan latar belakang dan adat istiadat ke-Aceh-an yang kental dengan nilai-nilai Islam. Penampilan penari latar yang mempertontonkan gerak dan goyang tarian Aceh patut dipertahankan. Teks di VCD-VCD lagu Aceh perlu ditulis secara tepat dan benar. Janganlah karena lagu, bahasa Aceh jadi hancur berantakan. Kemudian, dalam mengkomersialkan lagu-lagu Aceh demi meraup keuntungan, para musisi dan produser lagu Aceh tidak boleh menyampingkan nilai-nilai dan harga diri, maruah (marwah/harga diri) serta martabat Ke-Aceh-an yang sarat dengan tindak-tanduk Islam. VCD-VCD lagu Aceh harus menampilkan penyanyi yang santun tanpa memamerkan aurat yang belebihan, sehingga akan mengaburkan maksud dan pesan yang terkandung dalam lagu Aceh itu. Hal ini seperti berlaku atas kebanyakan VCD-VCD lagu Aceh belakangan ini. Pernah suatu ketika, kawan penulis asal Medan dan Riau menonton VCD lagu Aceh yang urakan. Dia pun berkomentar, inikah lagu Aceh, Serambi Mekkah?

 

Katanya, Aceh adalah Serambi Mekkah-nya Indonesia yang telah mengimplimentasi syari’at Islam dan barang siapa yang membuka aurat di Aceh akan di gunting rambutnya. Tapi kenapa kalau di VCD-VCD lagu Aceh banyak penyanyi wanita Aceh begitu leluasa membuka aurat? Semenjak itu pula, katika ingin memutarkan lagu Aceh, penulis pastikan dulu kamar terkunci, untuk menghindari tanggapan-tanggapan jelek tentang lagu Aceh pada khususnya dan Aceh pada umumnya.

 

Akhirnya, kita tidak mau lagu Aceh yang bertujuan untuk menghibur, mengangkat martabat budaya, adat dan bahasa, menyuarakan realitas hidup dan menyingkapi sejarah kemegahan silam Aceh telah dikaburkan oleh keserakahan segelintir para musisi dan produser lagu Aceh untuk meraup keuntungan. Janganlah dalam berkompetisi untuk mengkomersialkan lagu-lagu mereka, para musisi dan produser lagu Aceh sanggup menggadaikan dan menjual harga diri dan maruah bangsa. Para musisi dan produser lagu Aceh harus lebih kreatif menciptakan musik khas keAcehan, bukannya menjadi “imitator” (penciplak) ulung. Lagu “nyawoeng” dan beberapa lagu buah karya Rafli lainnya, mungkin dapat dijadikan panutan. Kehadiran lagu-lagu “nyawoeng” selanjutnya sangat di tunggu-tunggu untuk lebih memperindah dan memperkaya khazanah lagu Aceh. Semoga saja lagu-lagu Aceh ke depan mampu mengangkat kembali budaya, nilai-nilai sejarah, bahasa dan martabat Aceh di mata orang asing, baik masyarakat luar daerah maupun di penduduk internasional.

 
  TULISAN LAINYA
» PEMIMPIN MASA DEPAN ACEH YANG IDEAL (06/09/06)
(Menelisik Beberapa Pesan Rasulullah Dalam Memilih Pemimpin)
|
Oleh: M. Shabri Abd. Majid Mantan Ketua Tanoh Rincong Students Association (TARSA) Malaysia hannanan@yahoo.com
» FENOMENA ORANG MISKIN & SYARIAT DI ACEH (14/08/06)
Oleh: M. Shabri H. Abd. Majid
| Mantan Ketua Umum Tanoh Rincong Students Association (TARSA) Malaysia
» Mengembalikan Ruh & Citra Pendidikan Aceh Karya Ilmiah (14/07/06)
Oleh: Dr. M. Shabri Abd. Majid | Mantan Ketua Umum Tanoh Rincong Students Association (TARSA) Malaysia hannanan@yahoo.com 
» Belajar dari Keberhasilan Malaysia dalam Membangun Perekonomian Aceh Baru (19/05/06)
Oleh: M. Shabri H. Abd Majid, M. Ec - Mantan Ketua Umum Tanoh Rincong Students Association (TARSA) Malaysia
» Bercermin Pada Malaysia, Membangun Pendidikan Aceh (25/04/06)
Oleh: M. Shabri H. Abd. Majid, M.Ec | (Mantan Ketua TARSA Malaysia, Mahasiswa Program Doktor di Malaysia dan Penulis Buku Ekonomi Islam Kontemporer: Isu-Isu Global dalam Perspektif Ekonomi Islam)